Life doesn't get easier, you just get stronger

Kamis, 06 Desember 2012

TANTANGAN MASYARAKAT DALAM KEBUDAYAAN MODERN TIRUAN

Tantangan yang sangat mengancam kita adalah Kebudayaan Modern Tiruan. Maksudnya “mengancam” di sini,  justru karena Kebudayaan Modern Tiruan tidak sejati, tidak substansial. Kebudayaan ini bersifat adalah semu. Kebudayaan ini membuat kita menjadi manusia palsu, manusia tanpa kepribadian, manusia terasing, dan manusia kosong.
Kebudayaan Modern Tiruan ini mempunyai daya tarik luar biasa, kebudayaan ini dapat mengalihkan pandangan asli kita tentang nilai, dan tentang status. Kebudayaan ini menawarkan kemewahan-kemewahan yang bahkan tidak pernah kita pikirkan dan bayangkan. Kebudayaan menjanjikan kepenuhan hidup, kemantapan diri, asal kita mau berhenti berpikir sendiri, berhenti membuat kita kehilangan penilaian kita sendiri. Akhirnya kita kehabisan identitas. Kebudayaan modern tiruan membuat kita lepas dari kebudayaan tradisional kita sendiri, sekaligus juga tidak menyentuh kebudayaan teknologis modern sungguhan (Suseno;1992).
Kebudayaan Modern Tiruan ini membuat kita kehilangan identitas akan Kebudayaan Tradisional kita. Kebudayaan ini membuat kita melupakan Kebudayaan Asli bangsa kita sendiri.

PONSEL MERUPAKAN KEBUDAYAAN KONSUMEN

Kecanduan teknologi di era yang semakin maju saat ini seakan menjadi hal yang lumrah. Survey yang dilakukan di Inggris menunjukkan bahwa orang dewasa menghasilkan tujuh jam sehari dalam berinteraksi dengan teknologi komunikasi.

Ponsel adalah bagian dari budaya konsumen. Ponsel tidak hanya dijadikan sebagai alat komunikasi saja, namun sebagai simbol status. Studi ini melibatkan responden usia 18 sampai 29 yang rata-rata mengirimkan 109,5 teks SMS per hari, atau sekitar 3.200 pesan per bulan. Mereka memeriksa ponsel mereka 60 kali dalam hari-hari biasa, dan lebih sering ketika mereka tidak ada aktivitas.

Bahkan bagi sebagian orang kehilangan akses pada ponsel mereka merupakan suatu bencana. Terutama bagi mereka yang lebih sering berinteraksi menggunakan  ponsel dari pada berinteraksi secara langsung. Mereka juga menganggap berinteraksi dengan ponsel lebih efisien ketimbang secara langsung, terutama jika berinteraksi dengan seseorang yang jaraknya jauh.

Kecanduan ponsel bahkan telah diberi nama “Nomophobia”, istilah yang diciptakan oleh para peneliti Inggris pada tahun 2008 untuk mengidentifikasi orang-orang yang mengalami kecemasan ketika mereka tidak memiliki akses teknologi mobile.

KEBUDAYAAN DAN PENDIDIKAN

 Pendidikan di Indonesia masih sangat perlu untuk di tingkatkan. Pemerintah harus lebih serius dalam menyelesaikan masalah ini. Pemerintah harus melakukan evaluasi penyebab Pendidikan di Indonesia masih kurang baik. Pendidikan masih menjadi permasalahan yang menjadi perhatian serius jika bangsa ini ingin dipandang oleh dunia.

Dan tanpa kita sadari ada hubungan menarik terkait dengan hal ini, yaitu mengenai kolaborasi kebudayaan dengan pendidikan, dalam artian bagaimana sistem pendidikan yang ada mengintrinsikkan kebudayaan di dalamnya. Dimana ada suatu kebudayaan yang menjadi spirit dari sistem pendidikan yang kita terapkan.

Jadi, secara tidak langsung Kebudayaan memberikan semangat tersendiri untuk bidang pendidikan. Kita juga menerapkan sistem pendidikan sesuai dengan Kebudayaan kita sendiri. Dilihat dari hal ini, berarti Kebudayaan memiliki peran yang cukup penting dalam bidang Pendidikan.

BUDAYA DALAM GAYA BERPAKAIAN

Gaya berpakaian sekarang menjadi salah satu point penting, terutama bagi wanita. Seseorang sebisa mungkin berpakaian sesuai dengan trend yang sedang popular. Dengan kecanggihan teknologi saat ini, sehingga memudahkan mereka mengetahui informasi tentang Fashion melalui Internet. Namun, yang akan di bahas bukanlah mengenai gaya berpakaian tersebut, tetapi tentang budaya  yang menjadi landasan seseorang memilih gaya berpakaian.

Sesuai dengan pengamatan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pakaian yang sekarang lebih diminati oleh masyarakat cenderung berdasarkan budaya asing, terutama bagi para remaja. Sebenarnya hal ini berdampak positif tetapi memiliki dampak negative juga.

Dampak positifnya, gaya berpakaian berdasarkan budaya asing lebih simple. Gaya berpakaian ini juga lebih dikenal dunia, jadi kita tidak terkesan  ketinggalan jaman.
Namun, dampak negativenya masyarakat lebih sering menggunakan pakaian tersebut ketimbang pakaian tradisional yang ada. Mereka lebih menyukai pakaian-pakaian modern tersebut. Pakaian tradisonal kita pun seolah terlupakan.

BUDAYA DAN MASALAH SANDANG, PAPAN, PANGAN

Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa, budaya merupakan perjuangan manusia dalam mengatasi masalah alam dan zaman. Permasalahan yang paling mendasar bagi manusia adalah masalah Sandang, Papan, dan Pangan. Sandang itu pakaian, Papan untuk tempat berlindung (Rumah), dan Pangan adalah makanan. Ketika seseorang kekurangan gizi bagaimana ia akan menjadi orang yang cerdas. Ketika kebutuhan pokok saja tidak dapat terpenuhi bagaimana seseorang dapat berpikir maju dan menciptakan teknologi yang baru.

Jangankan untuk itu, permasalahan pemenuhan kebutuhan kita sangat mempengaruhi pola hubungan di antara manusia. Seseorang bahkan rela mencuri untuk dapat memenuhi kebutuhanya. Sehingga, dalam hal ini bukan hanya berdampak pada kemiskinan, kelaparan, kematian, akan tetapi akan berpengaruh dalam tatanan budaya-sosial masyarakat.

Karena tidak dapat memenuhi kebutuhanya, seseorang akhirnya melanggar budaya sosial masyarakat. Ia melanggar norma-norma yang berlaku dalam masyarakat tersebut. Hal ini tentu sangat merugikan masyarakat yang lain. Hal ini juga dapat menyebabkan pertengkaran dan perpecahan.