Life doesn't get easier, you just get stronger

Sabtu, 08 Desember 2012

BUDAYA “NGARET” WARGA JAKARTA

Kepadatan penduduk warga Jakarta, serta banyaknya kendaraan membuat Jakarta terkenal  dengan kemacetanya. Berbagai program sudah di lakukan demi mengurangi kemacetan, tetapi tetap saja kemacetan tidak bias teratasi samapai saat ini. Contoh dari program tersebut seperti jalur 3 in 1. Dan yang sudah berjalan beberapa tahun belakangan ini adalah mengubah jam masuk sekolah menjadi pukul 06.30 WIB. Tetapi tetap saja kemacetan belum bisa diatasi.


Kemacetan ini menyebabkan budaya baru di Jakarta, yaitu budaya “Ngaret”.  Maksud dari budaya ini adalah kebanyakan warga Jakarta tidak tepat waktu jika datang pada suatu janji. Mereka terjebak kemacetan sehingga mereka tidak dapat datang tepat waktu. Dan hal ini tidak dialami hanya pada beberapa warga masyarakat, tetapi sebagian besar warga Jakarta mengalami hal ini.

Jadi, sekarang keterlambatan ini menjadi suatu budaya baru yang terbentuk dari perilaku sehari-hari manusia. Di Jakarta untuk menentukan waktu bukan lah dengan menghitung jarak jauh dekatnya suatu tempat yang akan di kunjungi, tetapi di lihat dari kemacetan yang akan mereka alami.

Sudah seharusnya warga Jakarta dapat memperhitungkan waktu yang akan di tempuhnya dengan menghitung kemacetan yang akan mereka alami. Ini adalah satu-satunya cara untuk menghentikan budaya “Ngaret” tersebut, mengingat kemacetan Jakarta sangat sulit untuk diatasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar